Asuhan Keperawatan (ASKEP) Chronic Kidney Disease

No comment 19 views
Asuhan keperawatan Chronic Kidney Disease atau ASKEP CKD yang dikenal sebagai gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan ginjal gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).

Asuhan Keperawatan Chronic Kidney Disease, ASKEP CKD

Asuhan Keperawatan Chronic Kidney Disease

I. PENGERTIAN Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan ginjal yang progresif dan irreversibel di mana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah II. ETIOLOGI CKD dapat disebabkan oleh penyakit sistemik diantaranya adalah sebagai berikut:
  • DM.
  • Glomerulonefrtitis kronis
  • Pielonefritis
  • Agen toksis
  • Hipertensi yang tidak terkontrol
  • Obstruksi traktus urinalisis
  • Gangguan vaskuler
  • Infeksi
Terdapat 8 kelas sebagai berikut :
Klasifikasi penyakit Penyakit
Infeksi Pielonefritis kronik
Penyakit peradangan Glomerulonefritis
Penyakit vascularhipertensif Nefrosklerosis benignaNefrosklerosis maligna Stenosis arteri renalis
Gangguan jaringanpenyambung Lupus eritematosus sistemik Poliarteritis nodusSkelrosis sistemik progresif
Gangguan kongenital dan herediter Penyakit ginjal polikistikAsidosis tubulus ginjal
Penyakit metabolik Diabetes mellitus, GoutHiperparatiroidisme, Amiloidosis
Nefropati toksik Penyalahgunaan analgesikNefropati timbal
Nefropati obstruktif Saluran kemih atas : kalkuli, neoplasma fibrosis retroperitonealSaluran kemih bawah : hipertropi prostat, striktur uretra, anomaly congenital pada leher kandung kemih dan uretra
III. PATOFISIOLOGI Perjalanan umum GGK melalui 3 stadium: 1. Stadium I : Penurunan cadangan ginjal
  • Kreatinin serum dan kadar BUN normal
  • Asimptomatik
  • Tes beban kerja pada ginjal: pemekatan kemih, tes GFR
2. Stadium II : Insufisiensi ginjal
  • Kadar BUN meningkat (tergantung pada kadar protein dalam diet)
  • Kadar kreatinin serum meningkat
  • Nokturia dan poliuri (karena kegagalan pemekatan)
Ada 3 derajat insufisiensi ginjal:
  • Ringan 40% - 80% fungsi ginjal dalam keadaan normal
  • Sedang 15% - 40% fungsi ginjal normal
  • Kondisi berat 2% - 20% fungsi ginjal normal
3. Stadium III: gagal ginjal stadium akhir atau uremia
  • Kadar ureum dan kreatinin sangat meningkat
  • Ginjal sudah tidak dapat menjaga homeostasis cairan dan elektrolit
  • Air kemih/urin isoosmotis dengan plasma, dengan BJ 1,010
  • Patofisiologi umum GGK
  • Hipotesis Bricker (hipotesis nefron yang utuh)
  • “Bila nefron terserang penyakit maka seluruh unitnya akan hancur, namun sisa nefron yang masih utuh tetap bekerja normal”
V. MANIFESTASI KLINIK
  • Sistem kardiovaskuler: mencakup hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron), gagal jantung kongestif dan edema pulmoner (akibat cairan berlebih) dan perikarditis (akibat iritasi pada lapisan perikardial oleh toksin uremik).
  • Sistem integrumenurum: rasa gatal yang parah (pruritus). Butiran uremik merupakan suatu penunpukkan kristal urin di kulit, rambut tipis dan kasar.
  • Sistem gastrointestinal: anoreksia, mual, muntah.
  • Sistem neurovaskuler: perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi, kedura otot dan kejang.
  • Sistem pulmoner: krekels, sputun kental, nafas dalam dan kusmaul.
  • Sistem reproduktif: amenore, atrifi testikuler.
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.Laboratorium Pemeriksaan penurunan fungsi ginjal : ureum kreatinin, asam urat serum Identifikasi etiologi gagal ginjal : analisis urin rutin, mikrobiologi urin, kimia darah, elektrolit, imunodiagnosis Identifikasi perjalanan penyakit : progresifitas penurunan fungsi ginjal, ureum kreatinin, klearens kreatinin test : CCT = (140 – umur ) X BB (kg) 72 X kreatinin serum 2. Diagnostik VI. MANAJEMEN TERAPI
  • Intervensi diit
  • Hipertensi
  • Anemia
VII. KOMPLIKASI VIII. KLASIFIKASI GGK atau CKD (Cronic Kidney Disease) :

Stage

Gbran kerusakan ginjal

GFR (ml/min/1,73 m2)

1

Normal atau elevated GFR

≥ 90

2

Mild decrease in GFR

60-89

3

Moderate decrease in GFR

30-59

4

Severe decrease in GFR

15-29

5

Requires dialysis

≤ 15

IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL

RENPRA CKD (Cronic Kidney Disease)

No

Diagnosa

Tujuan/KH

Intervensi

1 Intoleransi aktivitas B.d ketidakseimbangan suplai & kebutuhan O2 Setelah dilakukan askep ... jam Klien dapat menoleransi aktivitas & melakukan ADL dgn baikKriteria Hasil:
  • Berpartisipasi dalam aktivitas fisik dgn TD, HR, RR yang sesuai
  • Warna kulit normal,hangat&kering
  • Memverbalisasikan pentingnya aktivitas secara bertahap
  • Mengekspresikan pengertian pentingnya keseimbangan latihan & istirahat
  • ↑toleransi aktivitas
NIC: Toleransi aktivitas
  • Tentukan penyebab intoleransi aktivitas & tentukan apakah penyebab dari fisik, psikis/motivasi
  • Kaji kesesuaian aktivitas&istirahat klien sehari-hari
  • ↑ aktivitas secara bertahap, biarkan klien berpartisipasi dapat perubahan posisi, berpindah&perawatan diri
  • Pastikan klien mengubah posisi secara bertahap. Monitor gejala intoleransi aktivitas
  • Ketika membantu klien berdiri, observasi gejala intoleransi spt mual, pucat, pusing, gangguan kesadaran&tanda vital
  • Lakukan latihan ROM jika klien tidak dapat menoleransi aktivitas
2 Pola nafas tidak efektif b.d hiperventilasi, penurunan energi, kelemahan Setelah dilakukan askep ..... jam pola nafas klien menunjukkan ventilasi yg adekuat dg kriteria :
  • Tidak ada dispnea
  • Kedalaman nafas normal
  • Tidak ada retraksi dada / penggunaan otot bantuan pernafasan
Monitor Pernafasan:
  • Monitor irama, kedalaman dan frekuensi pernafasan.
  • Perhatikan pergerakan dada.
  • Auskultasi bunyi nafas
  • Monitor peningkatan ketdkmampuan istirahat, kecemasan dan seseg nafas.
  Pengelolaan Jalan Nafas
  • Atur posisi tidur klien untuk maximalkan ventilasi
  • Lakukan fisioterapi dada jika perlu
  • Monitor status pernafasan dan oksigenasi sesuai kebutuhan
  • Auskultasi bunyi nafas
  • Bersihhkan skret jika ada dengan batuk efektif / suction jika perlu.
3 Kelebihan volume cairan b.d. mekanisme pengaturan melemah Setelah dilakukan askep .....  jam pasien mengalami keseimbangan cairan dan elektrolit.Kriteria hasil:
  • Bebas dari edema anasarka, efusi
  • Suara paru bersih
  • Tanda vital dalam batas normal
Fluit manajemen:
  • Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat)
  • Monitor tnada vital
  • Monitor adanya indikasi overload/retraksi
  • Kaji daerah edema jika ada
  Fluit monitoring:
  • Monitor intake/output cairan
  • Monitor serum albumin dan protein total
  • Monitor RR, HR
  • Monitor turgor kulit dan adanya kehausan
  • Monitor warna, kualitas dan BJ urine

4

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Setelah dilakukan askep …..  jam klien menunjukanstatus nutrisi adekuatdibuktikan dengan BB stabil tidak terjadi mal nutrisi, tingkat energi adekuat, masukan nutrisi adekuat Manajemen Nutrisi
  • kaji pola makan klien
  • Kaji adanya alergi makanan.
  • Kaji makanan yang disukai oleh klien.
  • Kolaborasi dg ahli gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan klien.
  • Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisinya.
  • Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi.
  • Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien
  Monitor Nutrisi
  • Monitor BB setiap hari jika memungkinkan.
  • Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan.
  • Monitor lingkungan selama makan.
  • jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan.
  • Monitor adanya mual muntah.
  • Monitor adanya gangguan dalam proses mastikasi/input makanan misalnya perdarahan, bengkak dsb.
  • Monitor intake nutrisi dan kalori.
5 Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatannya b.d. kurangnya sumber informasi Setelah dilakukan askep … jam Pengetahuan klien / keluarga meningkat dg KH:Pasien mampu:
  • Menjelaskan kembali penjelasan yang diberikan
  • Mengenal kebutuhan perawatan dan pengobatan tanpa cemas
  • Klien / keluarga kooperatif saat dilakukan tindakan
Pendidikan : proses penyakit
  • Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya
  • Jelaskan tentang proses penyakit (tanda dan gejala), identifikasi kemungkinan penyebab.
  • Jelaskan kondisi klien
  • Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobantan
  • Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk mencegah komplikasi
  • Diskusikan tentang terapi dan pilihannya
  • Eksplorasi kemungkinan sumber yang bisa digunakan/ mendukung
  • instruksikan kapan harus ke pelayanan
  • Tanyakan kembali pengetahuan klien tentang penyakit, prosedur perawatan dan pengobatan
6 Resiko infeksi b/d tindakan invasive, penurunan daya tahan tubuh primer Setelah dilakukan askep ... jam risiko infeksi terkontrol dg KH:
  • Bebas dari tanda-tanda infeksi
  • Angka leukosit normal
  • Ps mengatakan tahu tentang tanda-tanda dan gejala infeksi
Kontrol infeksi
  • Ajarkan tehnik mencuci tangan
  • Ajarkan tanda-tanda infeksi
  • laporkan dokter segera bila ada tanda infeksi
  • Batasi pengunjung
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat ps
  • Tingkatkan masukan gizi yang cukup
  • Anjurkan istirahat cukup
  • Pastikan penanganan aseptic daerah IV
  • Berikan PEN-KES tentang risk infeksi
proteksi infeksi:
  • monitor tanda dan gejala infeksi
  • Pantau hasil laboratorium
  • Amati faktor-faktor yang bisa meningkatkan infeksi
  • monitor VS
7 PK: Insuf Renal Setelah dilakukan askep ... jam Perawat akan menangani atau mengurangi komplikasi dari insuf renal
  • Pantau tanda dan gejala insuf renal ( peningkatan TD, urine <30 cc/jam, peningkatan BJ urine, peningkatan natrium urine, BUN Creat, kalium, pospat dan amonia, edema).
  • Timbang BB jika memungkinkan
  • Catat balance cairan
  • Sesuaikan pemasukan cairan setiap hari = cairan yang keluar + 300 – 500 ml/hr
  • Berikan dorongan untuk pembatasan  masukan cairan yang ketat : 800-1000 cc/24 jam. Atau haluaran urin / 24 jam + 500cc
  • Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet, rendah natrium (2-4g/hr)
  • pantau tanda dan gejala asidosis metabolik ( pernafasan dangkal cepat, sakit kepala, mual muntah, Ph rendah, letargi)
  • Kolaborasi dengan timkes lain dalam therapinya
  • Pantau perdarahan, anemia, hipoalbuminemia
  • Kolaborasi untuk hemodialisis
8 PK: Anemia Setelah dilakukan askep .... jam perawat akan dapat meminimalkan terjadinya komplikasi anemia :
  • Hb >/= 10 gr/dl.
  • Konjungtiva tdk anemis
  • Kulit tidak pucat
  • Akral hangat
  • Monitor tanda-tanda anemia
  • Anjurkan untuk meningkatkan asupan nutrisi klien yg bergizi
  • Kolaborasi untuk pemeberian terapi initravena dan tranfusi darah
  • Kolaborasi kontrol Hb, HMT, Retic, status Fe
  • Observasi keadaan umum klien
9 Sindrom defisit self care b/d kelemahan Setelah dilakukan askep …. jam klien mampu Perawatan diriSelf care :Activity Daly Living (ADL) dengan kriteria :
  • Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari (makan, berpakaian, kebersihan, toileting, ambulasi)
  • Kebersihan diri pasien terpenuhi
Bantuan perawatan diri
  • Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri
  • Monitor kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, toileting dan makan
  • Beri bantuan sampai klien mempunyai kemapuan untuk merawat diri
  • Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.
  • Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya
  • Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin
  • Evaluasi kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  • Berikan reinforcement atas usaha yang dilakukan.
Semoga informasi tentang asuhan keperawatan Cronic Kidney Disease diatas bermanfaat dan dapat memberikan Anda referensi bagaimana menyusun ASKEP CKD. Berikut kami sampaikan pula untuk Anda untuk referensi ASKEP Anda tentang Asuhan Keperawatan Pasien Tuberkulosis Paru.