Contoh Khutbah Jumat Pertama dan Kedua

1 comment 1926 views
Contoh khutbah Jumat pertama dan kedua berikut tentang Taqwa kami hadirkan sebagai salah satu contoh khutbah Jumat terbaru yang memiliki hakekat benar-benar menyegarkan untuk keluar dari masalah kehidupan. Kami berharap semoga contoh khutbah jumat berikut dapat bermanfaat bagi Anda yang sedang mencari referensi khutbah Jumat. 

Contoh Khutbah Jumat Pertama dan Kedua - pusber.com

Khutbah Jumat Pertama dan Kedua

Taqwa

Contoh Khutbah Jumat Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ،

Sidang juma’at yang berbahagia… Pada hakekatnya tak ada penyejuk yang benar-benar menyegarkan, dan tak ada obat yang paling mujarab selain taqwa kepada Allah. Hanya taqwa kepadaNyalah satu-satunya jalan keluar dari berbagai problem kehidupan, yang mendatangkan keberkahan hidup, serta menyelamatkan dari adzab-Nya di dunia maupun di akhirat nanti, karena taqwa jualah seseorang akan mewarisi Surga Allah Subhannahu wa Ta'ala. Tsa'labah bin Abdurrahman, adalah salah seorang sahabat Rasulullah, yang selalu mendampingi dan membantu Rasulullah. la bermukim di kota Rasul, Madinah al-Munawarah. Pada suatu hari, ia berjalan-jalan di sekitar kota kediamannya itu. Tiba-tiba, ia melihat sebuah pintu rumah penduduk terbuka. Dari pintu itu, ia melihat seorang wanita yang sedang mandi di dalam rumah tersebut. Kemudian iapun sadar bahwa perbuatannya itu adalah dosa. La semakin bertambah takut, kalau-kalau sebab perbuatannya itu wahyu Allah turun dan memberitahukan kepada Rasulullah. Jika itu terjadi, betapa malunya ia melihat Rasulullah nanti. Untuk menghindari hal tersebut, maka ia mengambil keputusan untuk pergi menjauh dari kota Madinah. Ditinggalkannya semua keluarga dan sahabatnya, demikian pula dengan orang yang paling dicintainya, Rasulullah saw. la pun tinggal di salah satu tempat persembunyian. Sudah empat puluh hari Tsa'labah menghilang dari Madinah. Para sahabat mulai bertanya-tanya. Begitu juga Rasulullah saw. Kemudian datanglah Jibril kepada Rasulullah dan memberitahukan: "Hai Muhammad, Allah mengucapkan salam untukmu dan memberitahukan bahwa umatmu yang menghilang itu berada di sebuah gunung di sana. Umatmu itu terus meminta perlindungan kepada Allah dari siksaan Jahannam." Setelah menerima berita dari Jibril itu Rasulullah langsung mengutus Umar bin Khattab dan Salman al-Farisy untuk menemui Tsa'labah dan mengajaknya kembali ke Madinah. Merekapun kemudian berangkat mencari tempat yang ditunjukkan oleh Rasulullah di luar kota Madinah. Setelah mencari ke sana sini, mereka bertemu dengan seorang yang sedang menggembala ternaknya. Kebetulan, Umar bin Khattab telah mengenalnya dan mengetahui namanya, Zufafah. Umar bertanya kepadanya. "Apakah engkau melihat pemudayang berada di sekitar daerah ini?" Zufafah menjawab. “Ya! Mungkin yang Anda maksudkan adalah orang yang lari dari neraka jahanam itu?" "Dari mana Anda mengetahui bahwa ia melarikan diri dari jahanam?” Umar melanjutkan pertanyaannya. "Biasanya pada tengah malam ia datang dari arah sini, tangannya diletakkan di atas kepalanya. la menangis dan mernekik sambil berseru: "Ya Allah. Alangkah baiknya jika Engkau mencabut nyawaku ini," jawab Zufafah. "Benar! Dialah yang kami cari!" kata Umar. Zufafah menyarankan Urnar dan Salman agar mereka menunggu saat-saat yang biasanya Tsa'labah keluar dari persembunyiannya. Akhirnya, seperti biasa, Tsa'labah keluar dan berseru dengan suara keras: "Ya Allah! Seandainya Engkau mencabut nyawaku ini?" Umar lalu mendekatinya. Setelah dekat benar dan saling mengetahui, Umar memulai pembicaraannya. "Saya Umar bin Khattab" Mendengar itu, Tsa 'labah kepada Umar."Tahukah Rasulullah dosa yang telah kuperbuat?" "Saya tidak tahu. Tetapi, kemarin RasuluIIah menyebutmu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. la yang menyuruh saya datang menemuimu di sini agar kita sama-sama kembali ke Madinah," "Baiklah Umar. Kalau itu yang di kehendaki oleh Rasulullah saw. Tetapi, dengan syarat kita menemui beliau ketika ia sedang shalat atau ketika iqamat, sesaat sebelum shalat dimulai," Tsa 'labah memberi syarat. "Baiklah," jawab Umar. Akhirnya merekapun berangkat bersama-sama kembali ke Madinah. Ketika mereka tiba di Masjid Rasul, para sahabat sedang melaksanakan shalat dan Rasulullah saw sebagai imamnya. Ketika Tsa'labah mendengar ayat-ayat yang dibaca Rasulullah, iapun jatuh tersungkur. "Ini orangnya ya Rasululallah," seru Umar. "Bukankah telah kuajarkan kepadamu ayat-ayat penghapus dosa?" kata Rasulullah. "Benar, wahai Rasulullah," jawab Tsa'labah. "Bacalah, "seru Rasulullah. "Ya Allah! Bahagiakanlah aku hidup di dunia dan bahagiakanlah aku hidup di akhirat serta lepaskanlah aku dari siksaan azab-Mu," lanjut Rasul. "Dosaku lebih besar dari itu, ya Rasulullah!" sela Tsa 'labah. "Tidak! Firman Allah itulah yang lebih agung dan lebih mulia," kata Rasulullah. Kemudian Rasulullah menyuruh Tsa'labah agar ia kembali ke rumahnya semula. Tsa'labah pun menuruti apa yang diperintahkan Rasulullah. Tak lama setelah di rumah, Tsa'Iabah menderita sakit. Setelah tiga hari ia sakit, Salman memberitahukannya kepada Rasulullah. Mendengar itu segeralah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yang ada ketika itu bersama-sama pergi mengunjungi Tsa'labah. Setiba di sana, Rasulullah memegang kepala Tsa'labah. Tsa'labah lalu menarik kepalanya dan meletakkannya pada pangkuan Rasulullah saw. "Mengapa engkau turunkan kepalamu pada pangkuanku?" tanya Rasulullah kepada Tsa'labah. "Hai Rasulullah! Sebenarnya kepalaku ini tidaklah pantas berada di atas pangkuanmu, sebab kepalaku telah penuh dosa!" Jawab Tsaiabah. "Dari mana engkau tahu?" tanya Rasulullah. "Terasa laksana semut yang menjalar di tulang dan kulitku ini," jawab Tsa 'labah. "Jadi apa yang engkau inginkan, wahai Tsa'labah?" tanya Rasulullah saw. lagi. "Pengampunan Allah!" jawab Tsa' labah singkat. Beberapa saat setelah kalimat itu Tsa'labah pun agak memekik. la menghembuskan nafasnya yang terakhir. Rasulullah segera memandikan, mengkafani dan menshalatkan Tsa'labah yang telah menjadi mayat. Selain itu, Rasulullah turut pula mengusung keranda jenazah Tsa'labah hingga ke pemakaman, tempat peristirahatannya yang terakhir. Ketlka mengusung keranda Tsa'labah, sahabat-sahabat melihat Rasulullah berjalan terjingkat-jingkat, Rasulullah terlihat seperti kesusahan jalan. Lalu seorang sahabat bertanya: "Tadi, kami lihat engkau seperti susah jalan ketika memikul jenazah Tsa'labah. Apa yang menyebabkan hal itu, hai Rasulullah" "Ketika aku memikut jenazah Tsa'labah tadi, hampir aku tidak blsa menjejakkan kaki ke tanah, disebabkan banyak dan padatnya malaikat-malaikat yang turut mengusung dan mengiringi jenazahnya," jawab Rasulullah. Akhirnya, kehidupan Tsa'Iabah diakhiri dengan taubat dan pengampunan dari Allah. Subhanallah… Lantas.. apakah kita akan terus menambah dosa-dosa kita? Apakah kita pantas mengungkit kebaikan yang belum tentu diterima Allah, dan melupakan dosa-dosa yang telah kita lakukan? Mari kita merenung sejenak, meraba diri, mengenal diri, dan akhirnya kita bisa kembali kepada kasih sayang Allahu rabbi.. Selagi kita bisa, selagi nyawa masih ada Selagi mampu, selagi ada waktu.. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu…

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ ولجميع المسلين إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوه

Contoh Khutbah Jumat Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، في العالمين إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.